Belajar melihat AI bukan sebagai jalan pintas, tapi sebagai bahan renungan bersama.
Bayangkan seorang siswa mendapat tugas membuat esai. Ia membuka AI, mengetikkan pertanyaan, dan beberapa detik kemudian sebuah tulisan sudah jadi.
Rapi. Cepat. Bahkan mungkin lebih bagus daripada yang biasanya ia tulis.
Tapi ada satu pertanyaan penting:
Apakah proses belajar benar-benar terjadi di situ?
AI sekarang ada di mana-mana, termasuk di dunia pendidikan. Dipakai untuk mencari informasi, menerjemahkan, membuat tulisan, bahkan menyelesaikan soal matematika. Ini bukan hal yang perlu ditakuti. Tapi ini juga bukan hal yang bisa dianggap remeh.
Sudah Sejauh Apa AI Masuk ke Dunia Pendidikan?
Data dari berbagai riset pendidikan cukup konsisten: penggunaan AI oleh pelajar melonjak sangat cepat dalam dua tahun terakhir — jauh lebih cepat dari kesiapan sekolah untuk mengaturnya.
Riset soal dampaknya sendiri masih beragam. Sebagian menunjukkan AI bisa mempercepat pemahaman. Sebagian lain memperingatkan risiko menurunnya kemampuan berpikir kritis, kalau AI dipakai sebagai jalan pintas, bukan alat bantu.
Satu hal yang jelas: dunia pendidikan sendiri belum sepenuhnya sepakat. Apakah AI ini gangguan yang perlu dibatasi? Atau justru kompetensi baru yang perlu diajarkan, seperti dulu kita belajar literasi komputer?
Alat Bantu Berpikir, atau Pengganti Berpikir?
Ini pertanyaan yang lebih penting dari sekadar "boleh atau tidak boleh".
Ada perbedaan besar antara:
"Saya pakai AI untuk membantu memahami."
dan
"Saya pakai AI supaya tugas selesai tanpa perlu memahami."
Hasilnya bisa terlihat sama persis. Tapi prosesnya jauh berbeda.
Sebab belajar bukan cuma soal dapat jawaban benar. Justru saat berjuang dengan soal yang sulit, mencoba, salah, lalu mencoba lagi, di situlah kemampuan berpikir sedang dibentuk.
Di Era AI, Anak Justru Perlu Lebih Banyak Bertanya
Dulu, tantangan anak adalah menemukan jawaban. Sekarang, jawaban bisa ditemukan dalam hitungan detik.
Karena itu, anak perlu belajar bertanya:
Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah saya benar-benar memahami jawabannya?
Tidak semua jawaban AI otomatis benar. Anak perlu belajar memeriksa, membandingkan, mempertanyakan, dan mengambil keputusan dengan pertimbangannya sendiri.
Inilah mengapa kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.
Teknologi Boleh Canggih, Tapi Siapa yang Sebenarnya Memegang Kendali?
Dari sudut pandang iman, kemampuan manusia berpikir dan mencipta termasuk menciptakan AI bisa dilihat sebagai bagian dari anugerah Tuhan yang dipercayakan sejak awal (Kejadian 1:27-28). Dalam arti itu, AI bukan sesuatu yang perlu ditolak begitu saja.
Tapi teknologi tetaplah alat. Dan alat, sehebat apa pun, tidak boleh menggantikan tempat hikmat dalam hidup kita.
Pertanyaannya bukan cuma "AI ini baik atau buruk?", tapi:
“Apakah kita masih mengendalikan teknologi, atau mulai bergantung kepadanya?”
Amsal 3:5 mengingatkan kita untuk tidak bersandar sepenuhnya pada pengertian kita sendiri. Di zaman ketika mesin dapat memberikan begitu banyak jawaban, ayat ini mengajak kita untuk tetap menggunakan hikmat dalam menentukan apa yang kita percaya dan lakukan.
Lalu, Apa Peran Sekolah dan Orang Tua?
Barangkali jawabannya bukan melarang AI sepenuhnya. Itu bukan solusi yang realistis, dan juga bukan cara mendidik yang baik.
Yang lebih dibutuhkan adalah pendampingan — agar AI dipakai sebagai alat bantu belajar, bukan cara menghindari belajar. Agar jawabannya diperiksa, bukan langsung ditelan mentah-mentah. Dan agar penggunaannya tetap disertai kejujuran, karena itu soal integritas, bukan sekadar aturan akademik.
Di sinilah sekolah dan orang tua memiliki peran penting: mendampingi anak agar teknologi menjadi alat yang memperkuat pembelajaran, bukan menggantikannya.
Di Tabgha Education Centre, Kita Ingin Anak Siap Menghadapi Zamannya
Kita tidak ingin anak-anak takut terhadap teknologi. Tetapi kita juga tidak ingin mereka bergantung kepadanya.
Kita ingin mereka mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, sambil tetap memiliki kemampuan berpikir, karakter untuk memilih yang benar, dan iman sebagai dasar dalam menggunakan setiap kemampuan yang mereka miliki.
Pendidikan bukan hanya tentang membuat anak cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk mereka menjadi manusia yang tahu kapan, bagaimana, dan untuk apa teknologi digunakan.
AI mungkin bisa membantu menyelesaikan tugas. Tapi AI tidak bisa menggantikan relasi seorang guru yang mengenal muridnya, teladan yang membentuk karakter, atau keluarga yang mendampingi setiap prosesnya.
Karena itu, mungkin pertanyaan terbesar di era ini bukan "seberapa canggih AI akan menjadi?" melainkan:
"Seperti apa manusia yang sedang kita siapkan untuk hidup berdampingan dengan AI?"
Kita tidak perlu takut pada teknologi. Tetapi kita juga tidak boleh menyerahkan proses berpikir kita begitu saja kepadanya.
AI bisa membantu mengerjakan tugas. Tapi hanya proses belajar yang sesungguhnya yang bisa membentuk cara berpikir.
Sondang Pangaribuan, M.Pd
Kepala SMP Kristen Tabgha
