AI Can Do the Homework, But Can It Build the Mind?

Belajar melihat AI bukan sebagai jalan pintas, tapi sebagai bahan renungan bersama.

Bayangkan seorang siswa mendapat tugas membuat esai. Ia membuka AI, mengetikkan pertanyaan, dan beberapa detik kemudian sebuah tulisan sudah jadi.

Rapi. Cepat. Bahkan mungkin lebih bagus daripada yang biasanya ia tulis.

Tapi ada satu pertanyaan penting:

Apakah proses belajar benar-benar terjadi di situ?

AI sekarang ada di mana-mana, termasuk di dunia pendidikan. Dipakai untuk mencari informasi, menerjemahkan, membuat tulisan, bahkan menyelesaikan soal matematika. Ini bukan hal yang perlu ditakuti. Tapi ini juga bukan hal yang bisa dianggap remeh.

Sudah Sejauh Apa AI Masuk ke Dunia Pendidikan?

Data dari berbagai riset pendidikan cukup konsisten: penggunaan AI oleh pelajar melonjak sangat cepat dalam dua tahun terakhir — jauh lebih cepat dari kesiapan sekolah untuk mengaturnya.

Riset soal dampaknya sendiri masih beragam. Sebagian menunjukkan AI bisa mempercepat pemahaman. Sebagian lain memperingatkan risiko menurunnya kemampuan berpikir kritis, kalau AI dipakai sebagai jalan pintas, bukan alat bantu.

Satu hal yang jelas: dunia pendidikan sendiri belum sepenuhnya sepakat. Apakah AI ini gangguan yang perlu dibatasi? Atau justru kompetensi baru yang perlu diajarkan, seperti dulu kita belajar literasi komputer?

Alat Bantu Berpikir, atau Pengganti Berpikir?

Ini pertanyaan yang lebih penting dari sekadar "boleh atau tidak boleh".

Ada perbedaan besar antara:

"Saya pakai AI untuk membantu memahami."

dan

"Saya pakai AI supaya tugas selesai tanpa perlu memahami."

Hasilnya bisa terlihat sama persis. Tapi prosesnya jauh berbeda.

Sebab belajar bukan cuma soal dapat jawaban benar. Justru saat berjuang dengan soal yang sulit, mencoba, salah, lalu mencoba lagi, di situlah kemampuan berpikir sedang dibentuk.

Di Era AI, Anak Justru Perlu Lebih Banyak Bertanya

Dulu, tantangan anak adalah menemukan jawaban. Sekarang, jawaban bisa ditemukan dalam hitungan detik.

Karena itu, anak perlu belajar bertanya:

Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah saya benar-benar memahami jawabannya?

Tidak semua jawaban AI otomatis benar. Anak perlu belajar memeriksa, membandingkan, mempertanyakan, dan mengambil keputusan dengan pertimbangannya sendiri.

Inilah mengapa kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Teknologi Boleh Canggih, Tapi Siapa yang Sebenarnya Memegang Kendali?

Dari sudut pandang iman, kemampuan manusia berpikir dan mencipta  termasuk menciptakan AI bisa dilihat sebagai bagian dari anugerah Tuhan yang dipercayakan sejak awal (Kejadian 1:27-28). Dalam arti itu, AI bukan sesuatu yang perlu ditolak begitu saja.

Tapi teknologi tetaplah alat. Dan alat, sehebat apa pun, tidak boleh menggantikan tempat hikmat dalam hidup kita.

Pertanyaannya bukan cuma "AI ini baik atau buruk?", tapi:

“Apakah kita masih mengendalikan teknologi, atau mulai bergantung kepadanya?”

Amsal 3:5 mengingatkan kita untuk tidak bersandar sepenuhnya pada pengertian kita sendiri. Di zaman ketika mesin dapat memberikan begitu banyak jawaban, ayat ini mengajak kita untuk tetap menggunakan hikmat dalam menentukan apa yang kita percaya dan lakukan.

Lalu,  Apa Peran Sekolah dan Orang Tua?

Barangkali jawabannya bukan melarang AI sepenuhnya. Itu bukan solusi yang realistis, dan juga bukan cara mendidik yang baik.

Yang lebih dibutuhkan adalah pendampingan — agar AI dipakai sebagai alat bantu belajar, bukan cara menghindari belajar. Agar jawabannya diperiksa, bukan langsung ditelan mentah-mentah. Dan agar penggunaannya tetap disertai kejujuran, karena itu soal integritas, bukan sekadar aturan akademik.

Di sinilah sekolah dan orang tua memiliki peran penting: mendampingi anak agar teknologi menjadi alat yang memperkuat pembelajaran, bukan menggantikannya.

Di Tabgha Education Centre, Kita Ingin Anak Siap Menghadapi Zamannya

Kita tidak ingin anak-anak takut terhadap teknologi. Tetapi kita juga tidak ingin mereka bergantung kepadanya.

Kita ingin mereka mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, sambil tetap memiliki kemampuan berpikir, karakter untuk memilih yang benar, dan iman sebagai dasar dalam menggunakan setiap kemampuan yang mereka miliki.

Pendidikan bukan hanya tentang membuat anak cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk mereka menjadi manusia yang tahu kapan, bagaimana, dan untuk apa teknologi digunakan.

AI mungkin bisa membantu menyelesaikan tugas. Tapi AI tidak bisa menggantikan relasi seorang guru yang mengenal muridnya, teladan yang membentuk karakter, atau keluarga yang mendampingi setiap prosesnya.

Karena itu, mungkin pertanyaan terbesar di era ini bukan "seberapa canggih AI akan menjadi?"  melainkan:

"Seperti apa manusia yang sedang kita siapkan untuk hidup berdampingan dengan AI?"

Kita tidak perlu takut pada teknologi. Tetapi kita juga tidak boleh menyerahkan proses berpikir kita begitu saja kepadanya.

AI bisa membantu mengerjakan tugas. Tapi hanya proses belajar yang sesungguhnya yang bisa membentuk cara berpikir.

Sondang Pangaribuan, M.Pd

Kepala SMP Kristen Tabgha








ALTERNATE FUTURE : Mengendalikan Perbuatan & Menguasai Masa Depan

GBI TABGHA YOUTH PASTOR: PASTOR DENNIS

Tuhan telah merancangkan segala sesuatu yang baik untuk masa depan kita. TAPI masa depan itu hanya akan jadi kenyataan KALAU kita berani memilih jalan yang benar!

2 keputusan simple yang dapat diambil

1. KEPUTUSAN MENYARING LINGKUNGAN & SAHABAT

Amsal 22:24-25 (TB) Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.

Ada 2 jenis teman :

- Dream Killer Friends

- Dream Keeper Friends

Carilah sahabat yang mau jadi YOUR DREAM KEEPER! Jangan sampai ketemu sahabat yang jadi YOUR DREAM KILLER!

2. KEPUTUSAN MENJADI TRENDSETTER

Amsal 12:26 TSI

“Orang benar memberi pengaruh baik kepada temannya, tetapi orang jahat menyesatkan”

Jangan cuma nyari Dream Keeper Friends, tapi juga jadilah Dream Keeper Friends itu buat temanmu!

Mari jadikan TEC ini menjadi lingkungan yang positif!

Dimana benci dikalahkan oleh kasih dan penghakiman dikalahkan oleh penerimaan

Setiap pilihanmu hari ini, akan menentukan siapa kamu besok!

Buatlah pilihan yang benar, kuasai dirimu, jangan menjadi serupa dengan dunia ini, dan percayakan masa depanmu kepada Tuhan.

SMP & SMA KRISTEN TABGHA

81 tahun Indonesia merdeka.

Refleksi Kepala Sekolah – Agustus 2026

Setiap bulan Agustus, kita kembali melihat merah putih berkibar di mana-mana. Kita mendengar lagu-lagu perjuangan, mengikuti berbagai kegiatan kemerdekaan, dan mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah memberikan kemerdekaan kepada bangsa ini.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa arti kemerdekaan bagi generasi muda Indonesia hari ini?”

Kemerdekaan hari ini tidak lagi tentang mengangkat senjata melawan penjajah.

Tantangannya telah berubah.

Generasi muda kita menghadapi dunia yang penuh dengan informasi, teknologi, media sosial, persaingan global, budaya instan, dan berbagai pilihan yang dapat membentuk cara mereka berpikir dan bertindak.

Mereka memiliki begitu banyak kesempatan untuk berkembang, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi tantangan untuk tetap memiliki karakter, disiplin, tanggung jawab, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas.

Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki karakter dan hati untuk bangsanya.

Dan di sinilah keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat penting.

Keluarga adalah tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan.

Dari orang tua, anak belajar bagaimana menghargai orang lain, bertanggung jawab, berbicara dengan baik, bekerja keras, dan memperlakukan sesama dengan kasih.

Sementara di sekolah, guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan.

Guru sedang membantu membentuk cara berpikir, karakter, kebiasaan, dan nilai-nilai yang akan dibawa anak-anak dalam kehidupan mereka.

Kita juga perlu bertanya:

“Pribadi seperti apa yang sedang kita bentuk?”

Apakah mereka belajar untuk jujur?

Apakah mereka belajar bertanggung jawab?

Apakah mereka mampu menghargai perbedaan?

Apakah mereka memiliki disiplin?

Apakah mereka berani mencoba dan tidak mudah menyerah?

Dan yang tidak kalah penting:

Apakah mereka memiliki rasa cinta terhadap Indonesia?

Mencintai Indonesia tidak harus selalu dilakukan dengan sesuatu yang besar.

Seorang anak yang membuang sampah pada tempatnya sedang belajar menjaga negerinya.

Anak yang menghormati gurunya sedang belajar menghargai sesama.

Anak yang belajar dengan sungguh-sungguh sedang mempersiapkan dirinya untuk masa depan bangsa.

Anak yang mau menolong temannya sedang belajar membangun Indonesia yang peduli.

Dan anak yang menggunakan teknologi dengan bijaksana sedang belajar menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Cinta Indonesia dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran setiap hari.

Di Tabgha Education Centre, kita menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah perjalanan bersama.

Orang tua tidak dapat berjalan sendiri.

Guru tidak dapat berjalan sendiri.

Sekolah tidak dapat berjalan sendiri.

Kita harus berjalan bersama.

Sebab anak-anak yang kita didik hari ini adalah orang-orang yang kelak akan mengisi berbagai bidang kehidupan di Indonesia.

Mereka akan menjadi pemimpin.

Mereka akan menjadi guru.

Mereka akan menjadi dokter, pengusaha, ilmuwan, seniman, teknolog, dan berbagai profesi lainnya.

Mungkin hari ini mereka masih duduk di bangku sekolah.

Tetapi sesungguhnya, Indonesia masa depan sedang bertumbuh di depan mata kita.

Karena itu, di usia Indonesia yang ke-81 tahun ini.

Mari kita mulai bertanya:

“Apa yang akan kita berikan kepada Indonesia?”

Pertanyaan itu bukan hanya untuk anak-anak.

Pertanyaan itu juga untuk kita sebagai orang tua.

Untuk kita sebagai guru.

Untuk kita sebagai sekolah.

Karena masa depan Indonesia bukan sesuatu yang akan datang begitu saja.

Masa depan Indonesia sedang kita bentuk hari ini—melalui cara kita mendidik, cara kita memberi teladan, dan cara kita memperlakukan generasi muda.

Mari kita membesarkan anak-anak yang tidak hanya memiliki cita-cita untuk sukses bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki hati untuk memberi manfaat bagi orang lain dan bagi bangsanya.

Mari kita tanamkan kepada mereka bahwa menjadi anak Indonesia adalah sebuah anugerah sekaligus tanggung jawab.

Indonesia adalah rumah kita.

Rumah yang diwariskan kepada kita oleh perjuangan generasi sebelumnya.

Dan kini, perlahan-lahan, tanggung jawab untuk menjaganya akan berpindah kepada generasi berikutnya.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, beriman, berani bermimpi, mau bekerja keras, menghargai keberagaman, dan mencintai Indonesia.

Karena pada akhirnya,

kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang kita terima dari para pahlawan, tetapi tentang apa yang kita lakukan untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan mereka.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Mari mencintai Indonesia.
Mari menjaga Indonesia.
Mari membangun Indonesia.

Dimulai dari keluarga.
Dikuatkan di sekolah.
Dan diwujudkan oleh generasi muda.

Merdeka!

Merdeka untuk Menjadi Berkat

Murid Kristus yang Mengasihi dan Membangun Indonesia

Pidato Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia
Tabgha Education Centre — 17 Agustus 2026
Pastor Hanny Andries, Founder YKKI

Shalom,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati para guru, dosen, pimpinan sekolah dan Sekolah Tinggi Teologi Kristen Tabgha, serta anak-anak dan generasi muda yang saya kasihi dan banggakan.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-81!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Hari ini kita berdiri di bawah Sang Merah Putih dengan penuh rasa syukur. Delapan puluh satu tahun yang lalu, para pahlawan bangsa berjuang, berkorban, bahkan menyerahkan nyawa supaya kita dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka.

Karena itu, hari ini kita bukan hanya memperingati sebuah peristiwa sejarah. Kita sedang menerima sebuah tanggung jawab sejarah.

Para pahlawan telah berjuang untuk merebut kemerdekaan. Sekarang, giliran kita untuk mengisi kemerdekaan.

Indonesia Membutuhkan Generasi Berkarakter

Anak-anakku yang saya kasihi,

Sebuah bangsa tidak menjadi besar hanya karena mempunyai gedung tinggi, teknologi canggih, atau ekonomi yang kuat. Bangsa yang besar membutuhkan manusia-manusia yang besar karakternya.

Indonesia membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang jujur.

Indonesia membutuhkan generasi yang kreatif, tetapi juga generasi yang berintegritas.

Indonesia membutuhkan generasi yang sukses, tetapi juga generasi yang takut akan Tuhan, menghormati orang tua, menghargai sesama, dan mencintai kebenaran.

Sebab kepandaian tanpa karakter dapat menghancurkan. Kekuasaan tanpa moral dapat disalahgunakan. Kekayaan tanpa integritas dapat melahirkan keserakahan.

Tetapi ketika kecerdasan berjalan bersama karakter, kita akan melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan bagi bangsa.

Aku Murid Kristus, Aku Anak Indonesia

Sebagai pelajar dan mahasiswa Kristen, kita mempunyai identitas yang sangat jelas:

Aku adalah murid Kristus.
Dan aku adalah anak Indonesia.

Keduanya tidak bertentangan.

Justru karena kita mengasihi Tuhan, kita harus semakin mengasihi bangsa kita.

Yesus berkata dalam Matius 5:13–14:

“Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.”

Tuhan tidak mengatakan bahwa kita hanya menjadi terang di gereja. Kita dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia.

Di sekolah, jadilah terang.
Di kampus, jadilah terang.
Di tempat kerja, jadilah terang.
Di dunia bisnis, jadilah terang.
Di pemerintahan, jadilah terang.
Bahkan di media sosial, jadilah terang.

Di mana pun Tuhan menempatkan kita, di sanalah karakter Kristus harus terlihat melalui kehidupan kita.

Bagaimana Kita Membangun Indonesia?

Mungkin ada anak SD yang berpikir,

“Saya masih kecil. Apa yang bisa saya lakukan untuk Indonesia?”

Jawabannya: Banyak!

Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat atau orang terkenal untuk membangun bangsa.

Ketika teman-teman menyontek tetapi kamu memilih jujur, kamu sedang membangun Indonesia.

Ketika menemukan barang yang bukan milikmu dan kamu mengembalikannya, kamu sedang membangun Indonesia.

Ketika kamu menghormati guru dan orang tua, kamu sedang membangun Indonesia.

Ketika kamu tidak melakukan bullying terhadap teman yang berbeda, kamu sedang membangun Indonesia.

Ketika kamu menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan dan bukan kebencian, kamu sedang membangun Indonesia.

Ketika kita menghormati saudara-saudara kita yang berbeda suku, budaya, dan agama, kita sedang menjaga Indonesia.

Indonesia tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang melakukan perkara besar. Indonesia dibangun setiap hari oleh jutaan orang yang memilih melakukan apa yang benar, sekalipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Itulah integritas.

Masa Depan Indonesia Ada di Ruang Kelas Hari Ini

Anak-anakku,

Jangan pernah berkata, “Saya masih kecil. Saya belum bisa melakukan apa-apa.”

Karena saya mau mengatakan sesuatu kepada kalian:

Masa depan Indonesia sedang duduk di ruang-ruang kelas hari ini.

Di antara kalian mungkin ada calon dokter, guru, pengusaha, ilmuwan, pendeta dan misionaris, pemimpin pemerintahan, bahkan mungkin ada calon pemimpin bangsa.

Karena itu, karakter yang kalian bangun hari ini akan menentukan Indonesia yang akan kalian bangun besok.

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang Indonesia dapat berikan kepada saya?”

Mulailah bertanya:

“Apa yang dapat saya berikan bagi Indonesia?”

Merdeka Bukan Berarti Bebas Melakukan Apa Saja

Alkitab memberikan pengertian yang sangat indah tentang kemerdekaan.

Galatia 5:13 berkata:

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Jadi, merdeka bukan berarti:

“Saya bebas melakukan apa saja yang saya mau.”

Kemerdekaan sejati adalah kemampuan untuk memilih apa yang benar.

Sebagai murid Kristus, kita harus menjadi generasi yang merdeka dari kebohongan, kebencian, narkoba, pornografi, kekerasan, kemalasan, egoisme, dan mental korupsi.

Kemudian kita menggunakan kemerdekaan kita untuk melayani Tuhan, melayani sesama, dan membangun bangsa.

Indonesia Membutuhkan Pembangunan Manusia

Indonesia membutuhkan pembangunan ekonomi. Indonesia membutuhkan teknologi. Indonesia membutuhkan infrastruktur.

Tetapi ada pembangunan yang tidak kalah penting:

PEMBANGUNAN MANUSIA.

Pembangunan mental, moral, dan karakter.

Kita membutuhkan generasi yang berani berkata:

Kalau orang lain berbohong, saya tetap akan berkata benar.

Kalau orang lain melakukan korupsi, saya tidak akan ikut korupsi.

Kalau orang lain membenci, saya akan memilih mengasihi.

Kalau orang lain merendahkan mereka yang berbeda, saya akan menghormatinya.

Kalau orang lain hanya memikirkan dirinya sendiri, saya akan memilih melayani.

Mengapa?

Karena saya adalah murid Kristus!

Inilah cara kita menghadirkan nilai-nilai kekristenan di tengah masyarakat — bukan hanya melalui kata-kata kita, tetapi melalui karakter dan kehidupan kita.

Jangan Menjadi Generasi Penonton

Anak-anak dan generasi muda yang saya kasihi,

Jangan hanya menjadi penonton sejarah. Jadilah pembuat sejarah.

Jangan hanya mengeluh tentang keadaan bangsa. Jadilah bagian dari jawabannya.

Jangan hanya berkata dunia semakin gelap. Nyalakan terangmu!

Jangan hanya berkata masyarakat kehilangan nilai moral. Tunjukkan karakter Kristus!

Jangan hanya berkata Indonesia membutuhkan perubahan. Mulailah perubahan itu dari dirimu sendiri!

Roma 12:2 berkata:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

Kita tidak dipanggil hanya untuk mengikuti arus zaman.

Kita dipanggil untuk memengaruhi zaman.

Dari Tabgha untuk Indonesia

Saya mempunyai sebuah kerinduan dan doa.

Kiranya dari sekolah-sekolah dan STT Kristen Tabgha ini lahir generasi yang berbeda:

  • Generasi yang berakar kuat dalam Kristus.

  • Generasi yang bertumbuh dalam kebenaran.

  • Generasi yang berbuah bagi masyarakat.

  • Generasi yang mencintai Tuhan dan sekaligus mencintai Indonesia.

Suatu hari nanti kalian akan tersebar ke berbagai bidang kehidupan.

Ada yang berdiri di mimbar.
Ada yang menjadi guru.
Ada yang menjadi dokter.
Ada yang membangun perusahaan.
Ada yang masuk ke pemerintahan.
Ada yang menjadi ahli teknologi.
Ada yang melayani masyarakat.
Ada yang pergi melayani bangsa-bangsa.

Tetapi di mana pun Tuhan menempatkan kalian, saya berdoa supaya orang melihat satu hal yang sama:

ADA KARAKTER KRISTUS DI DALAM DIRIMU.

Melalui hidupmu, orang merasakan kasih.

Melalui pekerjaanmu, orang melihat kejujuran.

Melalui keputusanmu, orang melihat integritas.

Melalui keberhasilanmu, orang melihat kerendahan hati.

Dan melalui hidupmu, Indonesia menjadi lebih baik.

Sekarang Giliran Kita

Delapan puluh satu tahun yang lalu, para pahlawan melakukan bagian mereka.

Sekarang giliran kita.

Mereka memberikan darah mereka.
Kita memberikan hidup dan karya kita.

Mereka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Kita akan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Mereka mewariskan bangsa ini kepada kita.
Kita akan menyerahkannya kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik, lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih bermoral.

Anak-anakku,

Indonesia menunggu kalian.

Indonesia menunggu kecerdasan kalian.
Indonesia menunggu kreativitas kalian.
Indonesia menunggu integritas kalian.
Indonesia menunggu keberanian kalian.
Indonesia menunggu karya kalian.

Dan sebagai murid Kristus:

INDONESIA MENUNGGU TERANG KRISTUS BERSINAR MELALUI KEHIDUPAN KALIAN.

Deklarasi Generasi

Saya ingin mengakhiri pidato ini dengan sebuah deklarasi.

Kalau kalian setuju, ucapkan bersama-sama dengan suara yang lantang:

Aku murid Kristus!
Aku anak Indonesia!
Aku mengasihi Tuhan!
Aku mencintai bangsaku!
Aku akan hidup dalam kebenaran!
Aku akan menjaga persatuan!
Aku akan menjadi terang!
Aku akan menjadi garam!
Aku akan belajar!
Aku akan bekerja!
Aku akan berkarya!
Aku akan memberikan yang terbaik bagi Indonesia!

Dan dengan pertolongan Tuhan:

HIDUPKU AKAN MENJADI BERKAT BAGI BANGSAKU!

Dari Tabgha, kita membangun generasi.
Dari generasi ini, kita memberkati Indonesia.
Dan dari Indonesia, kita menjadi berkat bagi bangsa-bangsa!

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!

Indonesia maju!
Indonesia bersatu!
Indonesia diberkati!

MERDEKA!
MERDEKA!
MERDEKA!

Tuhan memberkati generasi muda Indonesia.
Tuhan memberkati sekolah-sekolah dan STT Kristen Tabgha.
Dan Tuhan memberkati Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Shalom.

A Beautiful Beginning : MPLS at TK Kristen Tabgha

Every new school year begins with a special story—a story filled with hope, excitement, new friendships, and meaningful first experiences.

Every new school year begins with a special story a story filled with hope, excitement, new friendships, and meaningful first experiences. At TK Kristen Tabgha, the MPLS program became a beautiful beginning for children and parents as they stepped into a new learning journey together.

The journey began with Parents Orientation Day, a meaningful session designed to warmly welcome parents into the TK Kristen Tabgha family. During this special moment, parents were introduced to the school’s vision, learning programs, daily routines, school environment, and the important role of collaboration between teachers and families.

More than MPLS sharing information, Parents Orientation Day created a space for trust, connection, and shared understanding. Parents were able to meet the teachers who would accompany their children throughout the school year. They listened to explanations, shared their thoughts, and prepared themselves emotionally for their children’s first steps into school life.

Then came the most anticipated moment the children’s first day at school.

With small bags on their shoulders and mixed feelings in their hearts, the children arrived at TK Kristen Tabgha. Some entered the school with bright smiles and great excitement, while others held tightly to their parents’ hands, feeling nervous about the unfamiliar environment.

Every reaction was welcomed with patience, love, and understanding.

The teachers greeted each child warmly, helping them feel safe, accepted, and valued. Through songs, games, stories, creative activities, and joyful interactions, the children slowly began to explore their new surroundings. They became familiar with their classrooms, playground, learning areas, teachers, and new friends.

Little by little, nervous faces turned into happy smiles. Quiet children began to participate, hesitant steps became more confident, and unfamiliar spaces slowly started to feel like home.

During the MPLS activities, the children also learned school routines, such as greeting teachers and friends, placing their belongings properly, washing their hands, taking turns, sharing, listening, and participating in classroom activities. These small experiences became meaningful foundations for developing independence, responsibility, confidence, and kindness.

For some children, being separated from their parents was not easy. There were tears, long hugs, and moments of uncertainty. However, behind every tear was a brave child learning to trust, grow, and take a new step forward. With gentle encouragement from teachers and loving support from parents, the children gradually discovered that school could be a safe and joyful place.

MPLS at TK Kristen Tabgha was not only about introducing the school environment. It was about helping every child feel that they belong. It was about building emotional security, creating meaningful connections, and showing children that learning can be filled with joy, love, and discovery.

This beautiful beginning was also made possible through the trust and cooperation of parents. When families and teachers walk together, children receive the support they need to grow confidently and happily.

As we begin this new chapter, we are grateful for every smile, every brave step, every new friendship, and every precious moment shared during MPLS.

Welcome to TK Kristen Tabgha, dear children.

May this school become a place where you feel loved, discover your unique potential, build wonderful friendships, and create beautiful memories that will stay in your hearts for years to come.

Together, let us begin a joyful journey of learning, growing, and shining in God’s love.

Mr. Daniel

EY Principal

Growing Stronger with Love, Curiosity, Confidence and Purpose at Tabgha Education Centre

Menutup Tahun Ajaran 2025/2026, kami mengucap syukur atas penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi keluarga besar Tabgha Education Centre.

Tahun ini menjadi tahun yang penuh sukacita dan pencapaian di setiap jenjang pendidikan. Di tingkat TK, kami melihat anak-anak bertumbuh dalam kemandirian, kreativitas, komunikasi, dan kepercayaan diri melalui pendekatan Play-Based Learning yang menjadi fondasi pembelajaran mereka. Melalui berbagai proyek, presentasi, kegiatan eksplorasi, Student-Led Conference, serta program-program menarik seperti Book Day, Career Day, Summer Camp, Fun Gymnastics, dan Reading Buddy with Primary Students, anak-anak belajar untuk berani menyampaikan ide, menunjukkan hasil karya, dan merefleksikan proses belajar mereka kepada orang tua. Kami percaya bahwa keterampilan masa depan seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas mulai dibangun sejak usia dini.

Di tingkat SD dan SMP, kami bersyukur karena SD & SMP Kristen Tabgha berhasil meraih Peringkat 1 Kota Batam berdasarkan rata-rata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk Matematika dan Bahasa Indonesia. Kebanggaan ini semakin lengkap ketika dua siswa SD Kristen Tabgha menerima penghargaan dari Dinas Pendidikan Kota Batam sebagai peraih peringkat 5 terbaik se-Kota Batam dengan nilai Literasi dan Numerasi rata-rata 96,67. Selain itu, dua siswa SMP Kristen Tabgha berhasil memperoleh Full Scholarship ke Bukit Panjang Government High School di Singapura, membuktikan bahwa siswa TEC tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.

Di tingkat SMA, tujuh siswa berhasil diterima melalui jalur SNBP dan SNBT di berbagai perguruan tinggi ternama seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, dan Universitas Diponegoro.

Selain itu, siswa-siswi TEC juga mengharumkan nama sekolah melalui berbagai prestasi akademik dan non-akademik di tingkat antar sekolah, kota, hingga nasional dalam bidang bahasa Inggris, matematika, sains, olahraga, seni, dan musik. Prestasi ini menunjukkan bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik untuk berkembang dan bersinar.

Salah satu kebanggaan terbesar kami adalah seorang lulusan yang diterima di Program Teknik Komputer Universitas Indonesia. Perjalanannya bersama TEC dimulai sejak Taman Kanak-Kanak hingga lulus SMA. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang berkesinambungan, mulai dari bertumbuh dalam kasih di TK, mengembangkan kemampuan akademik dan karakter di SD dan SMP, hingga mempersiapkan masa depan di SMA, mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ia menjadi gambaran nyata dari visi TEC yang diwujudkan melalui perjalanan pendidikan yang utuh.

Namun, pencapaian ini bukan hanya tentang nilai, peringkat, beasiswa, atau universitas tujuan. Yang paling membanggakan adalah melihat setiap anak bertumbuh menjadi pribadi yang semakin mengenal Tuhan, memiliki karakter yang baik, berani mencoba hal baru, serta terus mengembangkan talenta yang telah Tuhan percayakan kepada mereka.

Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kepala sekolah, guru, staf, dan tim pendukung yang telah melayani dengan dedikasi luar biasa sepanjang tahun ajaran ini. Di balik setiap prestasi siswa, ada guru-guru yang dengan setia mengajar, membimbing, mendampingi, mendoakan, dan percaya pada potensi setiap anak. Kerja keras, kolaborasi, dan komitmen seluruh tim menjadi fondasi kuat yang memungkinkan siswa-siswi TEC berkembang secara akademik, karakter, maupun spiritual.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah menjadi mitra pendidikan yang luar biasa. Kepercayaan, dukungan, dan kerja sama yang terjalin antara rumah dan sekolah telah menjadi faktor penting dalam keberhasilan setiap anak.

Atas nama Yayasan Komunitas Kasih Indonesia (YKKI), kami menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh warga TEC; para siswa, orang tua, guru, staf, pimpinan sekolah, dan seluruh komunitas Tabgha Education Centre. Pencapaian yang kita rayakan hari ini adalah buah dari kebersamaan, kerja keras, dan komitmen untuk terus memberikan pendidikan terbaik yang berpusat pada Kristus.

Saat kami merefleksikan perjalanan tahun ini, kami diingatkan bahwa setiap pencapaian dan pertumbuhan merupakan hasil dari penyertaan Tuhan, kerja keras para siswa, dedikasi para pendidik, dukungan orang tua, dan kebersamaan seluruh komunitas TEC. Dari langkah-langkah kecil di TK hingga berbagai prestasi di SD, SMP, dan SMA, kami melihat bagaimana Tuhan dengan setia memimpin setiap perjalanan dan membuka jalan bagi masa depan yang penuh harapan.

Kiranya setiap keberhasilan yang telah diraih tidak hanya menjadi alasan untuk berbangga, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus belajar, melayani, dan memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.

"Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."
Filipi 1:6

Dengan iman, rasa syukur, dan semangat untuk terus bertumbuh, kami melangkah memasuki tahun ajaran yang baru, percaya bahwa Tuhan yang telah memulai pekerjaan yang baik di tengah-tengah kita akan terus menyempurnakannya.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. 

Growing Stronger with Love.
Growing Stronger with Curiosity.
Growing Stronger with Confidence and Purpose.
Growing Stronger as One.

Miss Tee
Head of School
Tabgha Education Centre

Growing Stronger with Confidence

Mengapa Kepercayaan Diri Anak Harus Dibangun Sejak SMP?

“Our confidence is not in ourselves, but in the faithfulness of God.”
Charles Stanley

Di tengah dunia yang terus berubah dengan sangat cepat, anak-anak remaja saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital, di mana informasi bergerak tanpa batas dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di satu sisi, teknologi membuka banyak peluang untuk belajar. Namun di sisi lain, dunia digital juga membawa tekanan bagi anak-anak.

Hari demi hari, mereka melihat pencapaian orang lain di layar ponsel mereka. Mereka melihat standar hidup, prestasi, dan popularitas yang sering kali tampak “sempurna.” Tanpa disadari, banyak anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka merasa harus selalu terlihat baik, harus selalu berhasil, dan harus selalu diterima.

Akibatnya, tidak sedikit remaja yang sebenarnya memiliki potensi besar justru tumbuh dengan rasa takut, cemas, dan kurang percaya diri.

Mereka takut gagal. Takut ditolak. Takut dianggap tidak cukup baik.

Bahkan, ada anak-anak yang memilih diam karena takut salah berbicara. Ada yang enggan mencoba karena takut dibandingkan. Ada pula yang merasa nilai dirinya ditentukan oleh jumlah likes, komentar, atau penerimaan dari lingkungan sekitar.

Inilah sebabnya mengapa membangun confidence pada anak sejak usia SMP menjadi sangat penting.

Kepercayaan diri bukan sekadar kemampuan tampil berani di depan banyak orang. Confidence yang sejati adalah kemampuan untuk mengenal nilai diri, memiliki keberanian untuk bertumbuh, dan tetap berdiri teguh meskipun menghadapi tekanan maupun kegagalan.

Sebagai sekolah Kristen, kami percaya bahwa setiap anak diciptakan secara istimewa oleh Tuhan dan memiliki tujuan yang berharga dalam hidupnya. Tidak ada anak yang “biasa saja” di mata Tuhan. Setiap anak memiliki talenta, potensi, dan panggilan yang unik.

Confidence sejati tidak dibangun dari pujian manusia, tetapi dari identitas kita di dalam Tuhan. Ketika anak memahami bahwa dirinya berharga di hadapan Tuhan, mereka akan memiliki pondasi yang kuat dalam membangun rasa percaya diri. Mereka tidak lagi mencari pengakuan hanya dari dunia luar, tetapi belajar melihat diri mereka melalui perspektif Tuhan.

Confidence yang benar bukanlah kesombongan ataupun merasa lebih baik dari orang lain. Confidence adalah keberanian untuk melangkah karena percaya bahwa Tuhan menyertai dan memampukan.

Masa SMP adalah masa pembentukan karakter yang sangat penting. Pada fase inilah anak mulai mencari jati diri, belajar mengambil keputusan, membangun relasi, dan bagaimana mereka memandang dirinya.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada akademik semata.

Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar. Anak-anak perlu diberikan ruang untuk menemukan potensi mereka tanpa rasa takut untuk dihakimi.

Di lingkungan sekolah, confidence dibangun melalui proses.

Ketika anak diberi kesempatan untuk memimpin, mereka belajar bertanggung jawab. Ketika mereka berbicara di depan kelas, mereka belajar berani. Ketika mengikuti kompetisi, mereka belajar menghadapi tantangan. Ketika mengalami kegagalan, mereka belajar bangkit dan tidak menyerah.

Semua pengalaman itu membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih kuat.

Sebagai sekolah kristen, kami percaya bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya terlihat dari pencapaian akademik, tetapi juga dari karakter dan hati anak-anak yang sedang dibentuk.

Karena itu, kami terus mendorong siswa untuk aktif dalam berbagai kesempatan pembelajaran, leadership, pelayanan, kompetisi, maupun kegiatan pengembangan diri lainnya. Kami ingin setiap anak memahami bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berkembang dan menjadi berkat bagi sekitarnya.

Kami bersyukur melihat banyak siswa bertumbuh bukan hanya dalam prestasi, tetapi juga dalam karakter. Beberapa siswa bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke sekolah unggulan dan menerima full scholarship di luar negeri. Namun lebih dari sekadar pencapaian tersebut, kami percaya bahwa hal terpenting adalah ketika anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan, dan berani melangkah sesuai tujuan hidup yang Tuhan berikan.

Di dunia yang penuh tekanan ini, anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa hidup mereka berharga. Mereka membutuhkan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pintar, tetapi juga generasi yang memiliki karakter dan keberanian untuk menjadi terang.

Growing Stronger with Confidence bukan sekadar motto, tetapi sebuah perjalanan untuk membentuk generasi yang kuat dalam karakter, teguh dalam iman, dan percaya diri dalam menjalani panggilan Tuhan.

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”

1 Timotius 4:12

Ms. Sondang Pangaribuan

Kepala SMP Kristen Tabgha

From Process to Promise: Celebrating SNBP 2026 Achievements

Puji syukur kepada Tuhan atas pencapaian yang membanggakan dari siswa-siswi SMA Kristen Tabgha yang berhasil lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 di Perguruan Tinggi Negeri.

Keberhasilan ini bukan hanya tentang diterima di universitas impian, tetapi tentang perjalanan panjang yang dibangun melalui proses belajar, disiplin, karakter, doa, dan ketekunan. Di balik setiap nama yang diumumkan, ada perjuangan, dukungan keluarga, dedikasi guru, serta penyertaan Tuhan yang nyata.

Selamat kepada:

  • Hanna Keyrisa Simangunsong – Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya

  • Samuel Ananta Sinulingga – Kedokteran, Universitas Brawijaya

  • Jhosua Stefanus Corel – Manajemen, Universitas Brawijaya

  • Jackson – Teknik Elektro, Universitas Brawijaya

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa SMA Kristen Tabgha terus bertumbuh menjadi komunitas pembelajaran yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membangun tujuan hidup dan karakter yang kuat — Growing Stronger with Purpose.

Sebagai kepala sekolah SMA, saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya menghasilkan siswa yang cerdas dan unggul secara akademik, tetapi juga pribadi yang siap menjadi terang, membawa dampak positif, dan melayani di mana pun mereka ditempatkan.

Prestasi lahir dari proses yang dijalani dengan setia setiap hari. Ketika sekolah, orang tua, dan siswa berjalan bersama dalam satu visi, maka akan lahir generasi yang tidak hanya sukses, tetapi juga memiliki integritas, ketangguhan, dan hati untuk Tuhan.

Kiranya pencapaian ini menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas untuk terus bertumbuh, berani bermimpi, dan mempersiapkan masa depan dengan sungguh-sungguh sejak hari ini.

From process to promise.
Today is proof, tomorrow becomes history.
Growing Stronger with Purpose.

Vera Susanti, S.Sn, M.Pd

Kepala SMA Kristen Tabgha 

ASEAN Youth Meeting: From Campus to Career

On Monday, 27 April 2026, six students from Tabgha Christian Junior High School were given the meaningful opportunity to participate in the ASEAN Youth Meeting: From Campus to Career, hosted by Bukit Panjang Government High School in Singapore.

This initiative, aligned with the Ministry of Education Singapore’s efforts to strengthen ASEAN awareness, brought together students from Singapore and across the ASEAN region to explore future-ready skills and regional career opportunities.

Learning Beyond the Classroom

Our students engaged attentively in a series of student-led presentations that explored:

●     Global trends shaping ASEAN’s future workforce

●     Key skills needed to thrive in an evolving world

These presentations were not only informative but also demonstrated strong research, collaboration, and critical thinking among the presenting students.

Insights from the Panel

A highlight of the programme was the panel discussion, where experienced mentors shared valuable perspectives on future-proofing careers. The panelists challenged students to think deeper, ask meaningful questions, and consider how they can prepare themselves for a rapidly changing global landscape.

Our students witnessed firsthand how knowledge connects with real-world application—an important reminder that learning is not confined to textbooks, but is alive in conversations, experiences, and exposure.

Experiencing School Culture

Following the session, students were given a school tour, during which they experienced the learning environment and culture at BPGHS. This provided a broader perspective on how schools in the region nurture student growth, independence, and global awareness.

Partnership that Matters

We are truly grateful for this opportunity to collaborate with our partner school, Bukit Panjang Government High School. Experiences like this strengthen not only students’ understanding of ASEAN but also build bridges of friendship, respect, and shared learning.

This experience reminds us that :

●     Exposure shapes perspective

●     Dialogue builds understanding

●     Collaboration prepares our students for the future

As a school, we remain committed to opening doors for our students—so they are not only academically equipped, but also globally aware and ready to make meaningful contributions in the ASEAN community and beyond.

Miss Tee

Head of School

Ketika Buku Tak Lagi Dipeluk, dan Layar Menggantikan Pelukan Itu

Ada Apa dengan Membaca?

Ketika Buku Tak Lagi Dipeluk, dan Layar Menggantikan Pelukan Itu…

Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya dalam hati: kapan terakhir kali kita melihat seorang anak benar-benar tenggelam dalam sebuah buku? Bukan karena tugas, bukan karena diminta, tetapi karena ia ingin. Pemandangan itu kini terasa semakin jarang. Buku-buku masih tersusun rapi di rak, bersih tanpa lipatan, seolah belum pernah benar-benar disentuh. Di sisi lain, yang lebih sering kita lihat adalah jari-jari kecil yang lincah menggulir layar, mata yang terpaku pada video demi video tanpa jeda. Lalu perlahan, pertanyaan itu muncul ada apa dengan membaca?

Barangkali bukan anak-anak yang berubah menjadi malas, melainkan dunia di sekitar mereka yang berubah begitu cepat. Dunia yang menawarkan segala sesuatu secara instan, menarik, dan tanpa perlu usaha panjang. Dalam dunia seperti ini, membaca terasa seperti berjalan pelan di tengah jalan yang serba cepat. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kebiasaan yang tidak lagi dibangun secara sadar. Tanpa kita sadari, kebiasaan itu perlahan memudar bukan karena anak tidak mampu, tetapi karena mereka tidak lagi terbiasa.

Jika kita jujur melihat ke dalam rumah kita sendiri, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang mengusik. Suara apa yang lebih sering hadir cerita yang dibacakan, atau suara layar yang terus menyala? Anak-anak tidak tiba-tiba kehilangan minat membaca. Mereka hanya tidak lagi melihat membaca sebagai sesuatu yang hidup. Mereka tidak melihat kita melakukannya. Padahal, dulu mungkin kitalah yang pernah dibesarkan oleh cerita, yang pernah merasakan hangatnya dunia yang dibuka oleh buku. Namun hari ini, apakah pengalaman itu masih kita berikan kepada mereka?

Di sekolah, membaca sering hadir sebagai kewajiban. Ada target yang harus dicapai, ada penilaian yang harus dipenuhi. Tanpa disadari, membaca berubah menjadi tugas, bukan lagi pengalaman. Ketika anak membaca hanya untuk menyelesaikan kewajiban, maka yang tumbuh bukanlah cinta, melainkan kejenuhan. Anak-anak tidak kekurangan perintah untuk membaca mereka kekurangan alasan untuk mencintainya.

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah ketika anak belum lancar membaca, tetapi ketika mereka tidak lagi ingin membaca. Di situlah perlahan mereka kehilangan rasa ingin tahu, kehilangan daya imajinasi, dan kehilangan kemampuan untuk memahami dunia secara lebih dalam. Mereka tidak lagi menjadi penjelajah melalui kata-kata, tetapi hanya menjadi penonton yang menerima tanpa menggali.

Namun, semua ini belum terlambat. Selalu ada jalan untuk kembali. Bukan dengan memaksa atau menuntut lebih keras, tetapi dengan menghadirkan kembali rasa itu rasa hangat, rasa dekat, rasa hidup dalam membaca. Mungkin dimulai dari hal yang sangat sederhana: duduk di samping anak, membuka satu buku, membacakan satu cerita, meluangkan sepuluh menit tanpa gangguan. Biarkan anak melihat bahwa membaca bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kebersamaan.

Suatu hari nanti, anak-anak kita akan tumbuh dan membawa cerita mereka sendiri. Dan ketika mereka mengingat masa kecilnya, semoga mereka tidak hanya mengingat layar yang menyala, tetapi juga seseorang yang pernah duduk di samping mereka, membacakan dunia lewat sebuah buku. Karena pada akhirnya, mungkin yang anak butuhkan bukan lebih banyak buku, tetapi lebih banyak kehadiran kita di dalam setiap cerita yang mereka jalani.

Lidia Lamhisa , S.Pd.,M.M.
Kepala SD Kristen Tabgha

Happy Move Program Afterschool Activity – TK Kristen Tabgha

Di usia dini, anak-anak belajar paling baik melalui gerakan, permainan, dan eksplorasi. Karena itu, Happy Move Program hadir sebagai kegiatan afterschool khusus untuk anak usia dini yang menggabungkan aktivitas fisik aktif dengan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Melalui pendekatan learning through play, anak-anak diajak untuk bergerak bebas, mencoba berbagai aktivitas seru, serta mengembangkan kemampuan fisik dan sosial mereka dalam lingkungan yang aman, positif, dan penuh sukacita.

Happy Move bukan sekadar kegiatan bergerak, tetapi menjadi ruang bagi anak untuk menyalurkan energi secara positif, membangun kepercayaan diri, serta mendukung perkembangan mereka secara menyeluruh

manfaat program bagi anak

Melalui kegiatan yang dirancang khusus untuk tahap perkembangan anak usia dini, Happy Move Program membantu anak bertumbuh secara sehat dan seimbang.

Beberapa manfaat yang dapat dirasakan anak antara lain:

  • Mengembangkan motorik kasar seperti berlari, melompat, dan menjaga keseimbangan

  • Meningkatkan koordinasi tubuh dan kelincahan

  • Membantu anak menjadi lebih aktif, sehat, dan bugar

  • Membangun rasa percaya diri saat mencoba hal baru

  • Melatih kemampuan mengikuti instruksi sederhana

  • Membantu anak mengelola emosi melalui aktivitas fisik

  • Mengembangkan keterampilan sosial dan kerja sama dengan teman

keunggulan happy move program

Program ini dirancang dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak usia dini sehingga setiap aktivitas memiliki tujuan yang jelas dan bermakna.

Keunggulan program ini meliputi:

  •  Dirancang khusus sesuai tahap perkembangan anak usia dini

  • Menggunakan metode play-based learning yang menyenangkan\

  • Dipandu oleh guru yang berpengalaman dan penuh perhatian

  • Aktivitas variatif dan kreatif, sehingga anak tidak mudah bosan

  • Lingkungan belajar yang aman, positif, dan suportif

  • Mendukung perkembangan holistik: fisik, sosial, dan emosional

proses kegiatan dalam setiap sesi

Setiap sesi Happy Move Program dirancang agar terstruktur namun tetap fleksibel dan menyenangkan, sehingga anak dapat menikmati setiap tahap kegiatan.

1. Warm Up (Pemanasan)

Anak-anak memulai sesi dengan gerakan ringan yang diiringi musik ceria untuk mempersiapkan tubuh mereka.

2. Main Activity (Aktivitas Inti)

Berbagai kegiatan seru dilakukan, seperti:

  • Permainan gerak (lari, lompat, obstacle sederhana)

  • Gerak dan lagu yang menyenangkan

  • Latihan koordinasi seperti lempar-tangkap dan keseimbangan

3. Group Play (Permainan Kelompok)

Melalui permainan bersama, anak belajar bekerja sama, bergiliran, dan memahami aturan sederhana.

4. Cool Down (Pendinginan)

Gerakan ringan dilakukan untuk membantu tubuh kembali rileks setelah aktivitas.

5. Reflection Time (Penutup)

Anak diajak berbagi pengalaman sederhana tentang kegiatan yang mereka lakukan, untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan berekspresi.

anak yang bahagia bergerak, siap belajar

Melalui Happy Move Program, TK Kristen Tabgha berkomitmen untuk membantu anak-anak bertumbuh aktif, sehat, dan penuh sukacita.

Kami percaya bahwa anak yang bahagia bergerak adalah anak yang siap belajar, mengeksplorasi, dan berkembang secara optimal.

Mr. Daniel - Kepala Sekolah TK Kristen Tabgha 

TABGHA SENIOR CUP 2026

Kolaborasi, Kreativitas, dan Karakter dalam Olahraga dan Seni

Pelaksanaan Tabgha Senior Cup 2026 menjadi momentum bersejarah bagi SMA Tabgha sebagai ajang perdana yang memadukan bidang olahraga dan seni dalam satu panggung besar. Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi merupakan wadah kolaborasi antar sekolah, sarana promosi lembaga, serta media pembentukan karakter peserta didik secara holistik.

Di tengah perkembangan zaman yang menuntut generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, kreatif, dan mampu bekerja sama, kegiatan seperti Tabgha Senior Cup menjadi laboratorium kehidupan yang nyata.

Melalui olahraga, siswa belajar sportivitas, disiplin, dan kerja sama tim. Melalui seni, siswa belajar mengekspresikan kreativitas, kepekaan rasa, serta kepercayaan diri tampil di depan publik. Kegiatan seperti ini terbukti mampu membentuk karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, implementasi potensi maupun skill, serta kemampuan sosial siswa.

Tujuan Pelaksanaan Tabgha Senior Cup

Pelaksanaan Tabgha Senior Cup memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

  • Membangun Kolaborasi Antar Sekolah

    Kegiatan ini mempertemukan siswa dari berbagai sekolah dalam suasana kompetisi yang sehat, memperluas relasi, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam keberagaman.

  • Media Promosi Sekolah

    Tabgha Senior Cup menjadi etalase bagi SMA Tabgha untuk menunjukkan kualitas, budaya sekolah, serta potensi siswa dalam bidang non-akademik.

  • Pembentukan Karakter Siswa

    Melalui pertandingan dan pertunjukan seni, siswa dilatih untuk disiplin, bertanggung jawab, berani tampil, serta belajar menerima kemenangan dan kekalahan dengan sikap yang benar dan penuh rasa syukur.

  • Pengembangan Bakat dan Minat

    Kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk menyalurkan talenta di bidang olahraga maupun seni secara positif dan terarah, serta menjadi kegiatan yang berkesinambungan.

Nilai-Nilai Alkitabiah dalam Tabgha Senior Cup

Pelaksanaan Tabgha Senior Cup sejalan dengan nilai-nilai Firman Tuhan, antara lain:

  • 1 Korintus 9:24

    "Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya."

    Ayat ini mengajarkan semangat berjuang dengan maksimal, bukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

  • Kolose 3:23

    "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan."

    Baik dalam pertandingan olahraga maupun penampilan seni, setiap siswa belajar bahwa usaha terbaik mereka adalah bentuk penyembahan kepada Tuhan.

  • Mazmur 133:1

    "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun."

    Nilai kebersamaan dan kolaborasi antar sekolah mencerminkan kesatuan dalam keberagaman.

Relevansi dengan Zaman Sekarang

Di era digital dan kompetitif saat ini, generasi muda menghadapi tantangan individualisme, tekanan prestasi, dan minimnya interaksi sosial yang sehat. Tabgha Senior Cup hadir sebagai jawaban dengan menghadirkan:

  • Ruang interaksi nyata, bukan hanya dunia virtual

  • Kompetisi yang sehat, bukan toxic comparison

  • Kolaborasi lintas sekolah yang membangun jejaring positif

  • Pembentukan karakter yang seimbang antara hard skill dan soft skill

Kegiatan olahraga terbukti memiliki hubungan kuat dengan pembentukan karakter seperti kerja sama, penetapan tujuan, dan ketangguhan mental. Sementara seni membantu siswa mengembangkan kreativitas, empati, serta kemampuan bekerja dalam harmoni bersama orang lain.

Dampak dan Nilai yang Ditinggalkan

Setelah berakhirnya Tabgha Senior Cup, yang diingat bukan hanya piala dan juara, tetapi nilai-nilai yang tertanam, yaitu:

  • Sportivitas

  • Kerja sama

  • Keberanian tampil

  • Disiplin dan tanggung jawab

  • Persahabatan lintas sekolah

  • Kebanggaan terhadap sekolah

Uniknya, kegiatan ini diprakarsai oleh murid SMA Tabgha sendiri, yaitu OSIS dan para volunter. Ini menjadi pengalaman baru bagi mereka dalam berorganisasi dan mengelola event dengan ruang lingkup yang lebih besar. Namun sekolah tetap menekankan bahwa prioritas utama adalah pembelajaran, sehingga siswa mampu menyeimbangkan antara kegiatan dan tanggung jawab akademik.

Kiranya melalui kegiatan ini SMA Tabgha semakin mengerucut kepada nilai dan warna yang semakin bersinar, menjadi sekolah yang bukan hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam karakter dan iman.

Informasi lengkap mengenai kegiatan dapat dikunjungi melalui Instagram OSIS SMA Kristen Tabgha:

https://www.instagram.com/osissmakristentabgha?igsh=bDJncHl0OXBvamEz

Kiranya Tuhan memberkati program Tabgha Senior Cup.

Tuhan Yesus Berkarya.

Hormat kami,

Vera Susanti, M.Pd

Tabgha Education Centre Partners with Bukit Panjang Government High School, Singapore

Tabgha Education Centre is proud to announce an educational partnership with Bukit Panjang Government High School, Singapore, focused on expanding academic opportunities and scholarship pathways for high-achieving students.

This collaboration reflects recognition of the strong academic performance, character development, and potential of TEC students, who are considered capable of competing and thriving in an international education environment. The partnership and scholarship outreach program has now entered its third year, demonstrating a sustained and trusted collaboration between the two schools. Through this partnership, both institutions share a common vision of nurturing globally minded learners who are prepared to face future challenges with confidence and integrity.

As part of the ongoing partnership, a Scholarship Socialization Session was held on 27 January 2026 at YZ Campus. The session aimed to provide students with valuable insights into international scholarship opportunities and to broaden their understanding of global education pathways.

During the session, Mr. Seet Tiat Hee, Principal of Bukit Panjang Government High School, shared his school’s commitment to supporting cross-border educational collaboration. He encouraged students to be courageous in pursuing international learning opportunities and to believe in their potential to excel beyond national boundaries.

To date, six students from Tabgha Education Centre (Junior High School) have successfully passed the selection process and are currently studying at Bukit Panjang Government High School. This achievement highlights the effectiveness of the program and the readiness of Tabgha Education Centre students to pursue international academic pathways.

This partnership marks an important step for TEC in strengthening its global network and enhancing the quality of education offered to its students. It is hoped that this collaboration will open more doors for future international programs, collaborative projects, student exchanges, and scholarship opportunities, empowering students to grow academically, personally, and globally.

Through initiatives like this, TEC continues to affirm its commitment to providing meaningful learning experiences that prepare students to become responsible, capable, and globally competitive individuals.



Miss Tee

School Director

Refleksi Akhir Tahun : Tidak Ada Perjalanan yang Sia-sia

Menjelang akhir tahun, mari kita sejenak merenungkan perjalanan yang telah kita lewati di tahun ini. Dalam satu tahun penuh dinamika, kita menemukan berbagai keberhasilan yang membanggakan, namun juga tantangan yang menguji ketekunan dan karakter. Meski tidak semua berjalan sempurna, satu keyakinan tetap teguh: setiap proses yang dialami tidak pernah sia- sia ketika kita percaya bahwa Tuhan bekerja melalui setiap langkah hidup kita. Seperti firman Tuhan dalam Roma 8:28, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Semua pengalaman, baik yang indah maupun yang sulit, telah turut membentuk perkembangan anak-anak dan komunitas pendidikan kita.

Di lingkungan TEC, setiap jenjang memiliki cerita, tantangan, dan pembelajaran masing- masing. Anak-anak belajar mengenal diri, membangun karakter, dan beradaptasi dengan tuntutan yang berbeda sesuai tahap pertumbuhan mereka.

Di balik tawa, usaha, kegagalan, dan keberhasilan, kita melihat bahwa:

  • Ada siswa yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam cara belajar maupun kedisiplinan.

  • Ada anak yang semakin berani mengambil peran, mencoba hal baru, atau tampil di depan umum.

  • Ada dinamika relasi yang berubah menjadi kesempatan untuk belajar tentang empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik.

  • Ada proses jatuh-bangun yang justru menguatkan ketahanan mental dan motivasi belajar.

Perjalanan yang Membawa Pembelajaran

Setiap langkah ini menggambarkan bahwa perkembangan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan yang ditempuh untuk mencapainya. Hal ini sejalan dengan Amsal 22:6: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Di TEC, keberhasilan tidak diukur semata- mata oleh angka atau prestasi formal. Keberhasilan juga terlihat melalui hal-hal sederhana namun bermakna: perubahan kebiasaan, pertumbuhan karakter, dan kemajuan dalam sikap serta tanggung jawab.

Tidak Ada Perjalanan yang Sia-Sia

Perjalanan pendidikan tidak selalu hanya berisi pencapaian. Ada saat ketika anak-anak mengalami kegagalan, kebingungan, atau penurunan motivasi. Namun, TEC percaya bahwa kegagalan merupakan bagian penting dari proses belajar.                                                                                 

Saat kita melihat kembali setiap peristiwa sepanjang tahun ini, kita menyadari bahwa setiap langkah—baik yang terasa mudah maupun yang penuh perjuangan—telah memiliki perannya sendiri dalam membentuk karakter, kedewasaan, dan cara berpikir anak-anak. Perjalanan di TEC bukan hanya tentang pembelajaran akademik, tetapi juga tentang membangun kepribadian, kemandirian, dan nilai-nilai hidup yang akan mereka bawa ke masa depan.

Akhir tahun bukanlah titik akhir, melainkan kesempatan untuk menyegarkan kembali tujuan dan semangat. Apa pun yang telah kita lalui—baik keberhasilan maupun tantangan—telah mempersiapkan kita untuk melangkah ke tahun berikutnya dengan lebih kuat.

Marilah kita memasuki tahun yang baru dengan rasa syukur, komitmen untuk terus bertumbuh, serta harapan bahwa setiap anak akan semakin berkembang sesuai potensi yang Tuhan percayakan.

Yeremia 29:11 mengingatkan kita bahwa Tuhan memiliki rancangan damai sejahtera bagi kita, “untuk memberikan hari depan yang penuh harapan.”

Sondang Pangaribuan, M. Pd
Kepala SMP Kristen Tabgha

Guru: Arsitek Masa Depan dan Pembawa Berkat

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang bergerak begitu cepat, di saat informasi datang bagai gelombang tak henti, di saat suara-suara saling berebut untuk didengar, ada sosok yang diam-diam menyalakan Cahaya guru. Bukan sekadar pengajar, bukan sekadar pembaca buku atau pemberi nilai. Guru sejati adalah arsitek jiwa, penata masa depan, pemantik rasa ingin tahu, dan penjaga mimpi yang tak terlihat.

Setiap hari, guru menapaki jalan yang sering tak terlihat hasilnya. Dari senyuman kecil murid yang tiba-tiba mengerti, dari mata yang bersinar karena menemukan sesuatu yang baru, guru tahu bahwa setiap kata, setiap tindakan, setiap detik yang dicurahkan adalah benih yang akan tumbuh. Dan benih itu akan berbuah mungkin hari ini tak tampak, mungkin esok atau lusa baru terlihat tapi pasti akan membawa berkat.

Mengajar bukan lagi sekadar menyampaikan materi atau mencetak nilai. Mengajar adalah membaca jiwa yang berbeda-beda, memahami cara pandang yang unik, meresapi bahasa hati yang kadang tak bisa diucapkan. Guru melihat potensi di setiap anak: yang kreatif, yang pemalu, yang keras kepala, yang pemimpi. Guru berani keluar dari kotak standar, berani menari di luar aturan, berani memeluk ide-ide  menembus batas biasa yang sebenarnya adalah benih masa depan.

Dan dalam setiap usaha itu, guru mungkin merasa letih, mungkin merasa tak terlihat. Tapi percayalah: setiap pengorbanan, setiap doa yang diselipkan di balik kelas yang ramai, setiap perhatian yang diberikan walau tak diucapkan, tidak pernah hilang sia-sia. Alam semesta, Tuhan, dan kehidupan sendiri mencatatnya. Jasamu, guru, adalah investasi jiwa untuk murid, untuk dunia, dan untuk dirimu sendiri. Suatu hari nanti, dalam bentuk yang mungkin tak kau duga, berkat itu akan kembali kepadamu: dalam senyum muridmu, dalam kata-kata yang mereka ucapkan saat dewasa, dalam kesuksesan yang mereka raih, bahkan dalam ketenangan hatimu sendiri.

Guru yang hebat tahu bahwa mendidik bukan hanya soal hari ini. Itu soal menanam pohon yang mungkin baru berbuah bertahun-tahun kemudian. Itu soal menanam cahaya dalam kegelapan, menyalakan harapan ketika yang lain menyerah, dan percaya bahwa setiap anak yang kau sentuh adalah potensi tak terbatas yang bisa mengubah dunia.

Bila engkau guru yang kadang merasa letih, yang kadang merasa tak dihargai, yang kadang merasa perjuangannya terlalu berat: ketahuilah bahwa kamu adalah pembawa berkat. Segala upaya, segala kasih, segala waktu yang kau curahkan, akan Kembali mungkin hari ini, mungkin esok, atau lusa. Tapi tidak pernah hilang. Dan dunia ini, murid-muridmu, serta hatimu sendiri, akan merasakan berkat itu.

Teruslah menyalakan cahaya, guru. Teruslah percaya pada keajaiban yang lahir dari tanganmu, dari kata-katamu, dari hatimu. Dunia membutuhkan keberanianmu, kreativitasmu, dan kasihmu. Dan percayalah: jasamu tidak pernah sia-sia. Semesta, Tuhan, dan generasi masa depan akan membalasnya dengan cara yang indah, di saat yang paling tepat.

Bangkitlah, guru. Engkau adalah cahaya. Engkau adalah berkat. Dan engkau adalah masa depan.


Lidia Lamhisa, S.Pd., M.M

Kepala Sekolah SD 

Book Day TK Kristen Tabgha Saatnya Buku Hidup dalam Imajinasi Anak!

Pada bulan Oktober, TK Kristen Tabgha merayakan Book Day — sebuah kegiatan istimewa yang dirancang untuk menumbuhkan minat baca dan cinta literasi sejak usia dini. Tahun ini, suasana sekolah kami dipenuhi warna dan keceriaan ketika para siswa datang dengan kostum karakter dari buku cerita favorit mereka. Ada yang menjadi putri, ksatria, hewan lucu, hingga tokoh pahlawan dari kisah-kisah yang mereka sukai.

Tujuan dan Makna Book Day

Kegiatan Book Day bukan sekadar perayaan kostum, tetapi juga bagian dari pendekatan pembelajaran “play-based learning” yang diterapkan di TK Kristen Tabgha. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak:

  • Untuk mengekspresikan imajinasi dan kreativitas melalui peran tokoh dalam buku.

  • Belajar menyampaikan cerita dan emosi dengan percaya diri di depan teman-teman.

  • Mengenal nilai moral dan pesan positif dari setiap kisah yang mereka baca.

  • Mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir kritis, dan sosial-emosional melalui interaksi ringan dengan teman dan guru.

Kegiatan Seru Selama Book Day

Hari itu, setiap kelas di TK Kristen Tabgha dipenuhi kegiatan menarik seperti:

  • Story Sharing Time — anak-anak menceritakan kembali kisah favoritnya dengan cara sederhana dan lucu.

  • Mini Parade Kostum — kesempatan bagi siswa untuk tampil percaya diri dan bangga mengenakan karakter pilihan mereka.

  • Reading Corner Exploration — area baca penuh warna dengan koleksi buku anak-anak yang menarik, membangun kebiasaan membaca sejak dini.

  • Creative Craft Session — membuat penanda buku, mahkota karakter, atau ilustrasi dari cerita yang mereka sukai.

Semua kegiatan dilakukan dalam suasana hangat, aman, dan penuh dukungan dari para guru yang telah berpengalaman serta bersertifikasi pendidikan anak usia dini.

Manfaat Book Day untuk Anak Usia Dini

Melalui kegiatan seperti ini, TK Kristen Tabgha percaya bahwa:

  • Anak belajar mencintai buku bukan karena kewajiban, melainkan karena kesenangan.

  • Kemampuan berkomunikasi, empati, dan imajinasi berkembang secara alami.

  • Aktivitas membaca menjadi bagian dari keseharian belajar yang menyenangkan, bukan aktivitas yang membosankan.

📖 TK Kristen Tabgha – Growing Stronger With Love!

Mr.Daniel - Early Years Principal 

Pentingnya “Guardian Teacher ‘ di Sekolah

Di era reformasi revolusi industri sekarang,hidup sudah berada di arus digitalisasi  ,banyak anak muda yang kehilangan arah bahkan sudah melabrak portal portal tidak tau lagi mana yang menjadi norma dan kebenaran ,sehingga banyak anak muda kehilangan jati diri dan kehilangan arah

Sekolah merupakan wadah yang menyiapkan generasi muda yang cerdas, intelektual serta spiritual artinya siswa tahu dan mengerti batasan dan memahami mana yang boleh dan mana yang tidak. Karakter seperti ini yang perlu dipersiapkan bagi generasi  di zaman sekarang, tentu sekolah memiliki peranan penting .

Perkembangan zaman yang begitu cepat membawa dampak luar biasa dalam dunia pendidikan. Siswa SMA saat ini hidup di tengah arus digital yang deras, dan tidak bisa melawan arus  dan tentunya memiliki tantangan yang deras dimana informasi datang dari segala arah, interaksi sosial berpindah ke layar, dan nilai-nilai moral sering kali kabur di antara tren media sosial. Budaya Fomo sudah menjadi bagian generasi muda tidak peduli latar belakang kehidupan sehingga semua terlihat dimanipulasi demi validasi
Dalam konteks inilah, peran guru tidak hanya sebagai mengajar, tetapi juga sebagai pendamping, pelindung, dan pembimbing pribadi menjadi sangat penting. Di sinilah program Guardian Teacher hadir.

Program Guardian Teacher adalah sistem pendampingan di mana setiap guru menjadi pembimbing atau mentor  bagi kelompok  kecil siswa secara personal dan berkelanjutan.
Guru tidak hanya mengawasi prestasi akademik, tetapi juga memantau perkembangan karakter dan spiritualitas siswa, menjadi tempat curhat yang aman, membantu siswa memahami potensi dan arah hidupnya, bahkan menjadi jembatan komunikasi antara sekolah dan keluarga.

Pentingnya Guardian Teacher di Era Sekarang?

  1. Mengatasi Krisis Relasi di Era Digital
    Siswa masa kini cenderung connected but isolated — terhubung secara daring, tapi kesepian secara emosional.
    Guardian Teacher membantu membangun kembali relasi manusiawi yang hangat dan autentik.

  2. Mencegah Masalah Emosional dan Sosial
    Banyak kasus “kenakalan” remaja, stres, hingga depresi siswa berawal dari tidak adanya sosok dewasa yang mendengar.
    Guardian Teacher berperan sebagai early detector dan safe zone bagi siswa.

  3. Mendukung Pembentukan Karakter dan Spiritualitas
    Ditengah nilai-nilai dunia yang berubah cepat, guardian teacher membantu menanamkan nilai iman, tanggung jawab, dan kasih.

  4. Menjalin Sinergi Sekolah – Orang Tua – Siswa
    Melalui komunikasi rutin, Guardian Teacher memperkuat kepercayaan antara sekolah dan keluarga, sehingga pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. 

Landasan Alkitabiah

“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah...”
(1 Petrus 5:2)

Seorang Guardian Teacher menjadi “gembala kecil” yang menuntun siswa agar tetap berjalan dalam terang Kristus di tengah derasnya arus zaman digital.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
(Amsal 22:6)

Program Guardian Teacher bukan sekadar inovasi manajerial, tetapi panggilan rohani.
Di tengah dunia yang sibuk dan serba cepat, kehadiran guru pendamping menjadi oase kasih dan perhatian yang menuntun setiap siswa menemukan arah hidupnya.
Dengan kasih Kristus sebagai dasar, setiap guru dapat menjadi penjaga jiwa muda yang sedang mencari makna.

Seorang guru bukan hanya mengajar dari buku, tetapi menggembalakan dari hati, menuntun satu jiwa muda agar menemukan terang di tengah gelapnya zaman.

When a teacher chooses not only to teach but also to walk beside, education becomes a journey of the heart that nurtures life.” (Ketika guru hadir bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga mendampingi, maka pendidikan menjadi perjalanan hati yang menumbuhkan kehidupan.”)

 

Miss Vera 

Senior High School Principal 

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE - 80!

Batam, 17 Agustus 2025 – Tabgha Education Centre memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 dengan penuh khidmat melalui Upacara Bendera yang digelar pada hari Minggu pagi.

Upacara ini dipimpin langsung oleh Pastor Hanny Andries, pendiri sekolah sekaligus pembina Yayasan Komunitas Kasih Indonesia, yang bertindak sebagai pembina upacara.

Momen ini terasa istimewa karena diiringi oleh penampilan marching band yang membawakan tiga lagu penuh semangat: Hari Merdeka, Gebyar-Gebyar, dan Mars Sekolah Kristen Tabgha. Dengan perpaduan instrumen seperti saxophone, xylophone, pianika, drum, cymbal, dan bendera, seluruh tim marching band mampu bersinergi menghadirkan ritme yang megah dan menggetarkan hati, menambah rasa cinta tanah air di hati semua yang hadir.

Upacara ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi dari SD, SMP, SMA, ST3B, bersama para guru, staf, serta jajaran pengurus Yayasan Komunitas Kasih Indonesia. Hadir pula tamu undangan serta keluarga besar Gereja Bethel Indonesia Tabgha (GBI Tabgha), yang turut bersukacita merayakan momen bersejarah ini.

Salah satu momen penting adalah penyematan pin logo baru Tabgha Education Centre kepada tiga perwakilan:

Miss Lidia Lamhisa (Kepala Sekolah),

Miss Mutiara Wardhani (Direktur Sekolah),

Bapak Stephen Lim (Ketua Sekolah Tinggi Teologia Batam).

Kami bangga kepada seluruh siswa-siswi yang bertugas dalam upacara. Dengan sinergi, disiplin, dan semangat yang membara, mereka mampu menunjukkan kualitas terbaik dalam setiap gerakan dan hentakan kaki.

Inilah wujud nyata jiwa Tabgha Education Centre: mencintai tanah air, menjunjung nilai iman, dan menyalakan semangat persatuan di Hari Kemerdekaan ini.

✨ “Indonesia Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” ✨

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

-Miss Tee-


RESILIENSI

Oleh Pintauli Simanjuntak, S.Pd, M.Psi

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk tetap kuat dan mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi masa-masa sulit. Tak hanya menjadikan seseorang tahan menghadapi tekanan, resiliensi juga membuatnya mampu bangkit dari keterpurukan.

Sebaliknya, orang yang kurang memiliki resiliensi cenderung mudah menyerah dan bisa sampai pada titik mengakhiri hidupnya sendiri, sebagaimana beberapa kasus menyedihkan tentang anak muda berprestasi yang memilih jalan tragis tersebut.

Karena resiliensi bukanlah kemampuan yang diwariskan secara alami, melainkan suatu keterampilan hidup yang harus dibangun melalui pembelajaran dan latihan, maka sangat penting bagi para orangtua untuk mulai menanamkannya sejak anak-anak masih kecil. Salah satu caranya adalah dengan mendampingi mereka saat menghadapi masalah. Perlu diingat, mendampingi bukan berarti menyelesaikan masalah untuk mereka, tetapi membimbing agar anak dapat memperkuat dirinya dan menghadapi tantangan secara mandiri. Berikut beberapa contoh untuk menggambarkan bagaimana resiliensi bisa dikembangkan:

a. Balon warna kuning

Seorang ibu menjemput anak TK-nya yang murung karena mendapat balon warna kuning, sementara warna favoritnya adalah merah. Dua pilihan sikap bisa diambil ibu:

●        Pilihan 1: Ibu mencari balon merah sebagai pengganti, baik dengan meminta ke guru atau membeli sendiri. Cara ini memang menghibur, tetapi tidak membantu anak belajar menghadapi kekecewaan.

●        Pilihan 2: Ibu memuji balon kuning dan mengaitkannya dengan hal positif, seperti telur yang kuningnya lezat. Sikap ini membantu anak belajar menerima situasi dan memperkuat daya juangnya.

b. Nilai buruk dalam ujian

Rafa, siswa kelas 4 SD, mendapat nilai buruk dalam ujian Matematika. Ia merasa dirinya bodoh, enggan belajar, dan takut dimarahi oleh orang tuanya. Dua respons orangtua mungkin terjadi:

●        Pilihan 1: Orangtua memarahi Rafa karena menganggapnya tidak serius belajar dan tidak teliti dalam mengerjakan soal Matematika. Tindakan ini tidak membantu anak belajar menghadapi kegagalan, bahkan menyalahkan anak atas kegagalan.

●        Pilihan 2: Orangtua berdiskusi terbuka dengan anak, menjelaskan bahwa nilai yang belum bagus itu bisa diperbaiki, yang penting tetap semangat untuk belajar. Ceritakan saat orang tua dulu juga pernah gagal, dan bagaimana bangkit kembali. Ini membuat anak merasa tidak sendiri. Dan jika nilai anak sudah naik meskipun sedikit, berikan pujian.

c. Tidak diajak ‘ngafe’ oleh teman geng

Seorang remaja merasa tersingkir setelah melihat unggahan teman-teman gengnya nongkrong tanpa dirinya. Ia curhat ke ibunya dan mengurung diri di kamar. Dua respons dari ibu dapat terjadi:

●        Pilihan 1: Ibu menanyakan langsung ke orangtua teman dan menyarankan anak menjauh dari teman-teman tersebut. Ini tidak membangun ketahanan emosi.

●        Pilihan 2: Ibu mengajak anaknya berdialog, menyarankan agar tetap bersikap seperti biasa dan memberi ruang kemungkinan adanya alasan yang tidak disengaja dari teman-temannya. Dengan cara ini, anak belajar untuk tidak mudah tersinggung dan tetap terbuka.

Sebagai orangtua dan pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk melatih anak-anak agar mampu menghadapi kegagalan, kesedihan, dan kekecewaan dalam hidup. Resiliensi perlu ditanamkan sejak dini agar mereka tumbuh menjadi pribadi tangguh yang tak mudah menyerah. Mari mencegah tragedi akibat rapuhnya jiwa anak-anak muda dengan membangun ketahanan mental mereka. Ingatlah pepatah, "Apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat."