Tabgha Education Centre

Ketika Buku Tak Lagi Dipeluk, dan Layar Menggantikan Pelukan Itu

Ada Apa dengan Membaca?

Ketika Buku Tak Lagi Dipeluk, dan Layar Menggantikan Pelukan Itu…

Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya dalam hati: kapan terakhir kali kita melihat seorang anak benar-benar tenggelam dalam sebuah buku? Bukan karena tugas, bukan karena diminta, tetapi karena ia ingin. Pemandangan itu kini terasa semakin jarang. Buku-buku masih tersusun rapi di rak, bersih tanpa lipatan, seolah belum pernah benar-benar disentuh. Di sisi lain, yang lebih sering kita lihat adalah jari-jari kecil yang lincah menggulir layar, mata yang terpaku pada video demi video tanpa jeda. Lalu perlahan, pertanyaan itu muncul ada apa dengan membaca?

Barangkali bukan anak-anak yang berubah menjadi malas, melainkan dunia di sekitar mereka yang berubah begitu cepat. Dunia yang menawarkan segala sesuatu secara instan, menarik, dan tanpa perlu usaha panjang. Dalam dunia seperti ini, membaca terasa seperti berjalan pelan di tengah jalan yang serba cepat. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kebiasaan yang tidak lagi dibangun secara sadar. Tanpa kita sadari, kebiasaan itu perlahan memudar bukan karena anak tidak mampu, tetapi karena mereka tidak lagi terbiasa.

Jika kita jujur melihat ke dalam rumah kita sendiri, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang mengusik. Suara apa yang lebih sering hadir cerita yang dibacakan, atau suara layar yang terus menyala? Anak-anak tidak tiba-tiba kehilangan minat membaca. Mereka hanya tidak lagi melihat membaca sebagai sesuatu yang hidup. Mereka tidak melihat kita melakukannya. Padahal, dulu mungkin kitalah yang pernah dibesarkan oleh cerita, yang pernah merasakan hangatnya dunia yang dibuka oleh buku. Namun hari ini, apakah pengalaman itu masih kita berikan kepada mereka?

Di sekolah, membaca sering hadir sebagai kewajiban. Ada target yang harus dicapai, ada penilaian yang harus dipenuhi. Tanpa disadari, membaca berubah menjadi tugas, bukan lagi pengalaman. Ketika anak membaca hanya untuk menyelesaikan kewajiban, maka yang tumbuh bukanlah cinta, melainkan kejenuhan. Anak-anak tidak kekurangan perintah untuk membaca mereka kekurangan alasan untuk mencintainya.

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah ketika anak belum lancar membaca, tetapi ketika mereka tidak lagi ingin membaca. Di situlah perlahan mereka kehilangan rasa ingin tahu, kehilangan daya imajinasi, dan kehilangan kemampuan untuk memahami dunia secara lebih dalam. Mereka tidak lagi menjadi penjelajah melalui kata-kata, tetapi hanya menjadi penonton yang menerima tanpa menggali.

Namun, semua ini belum terlambat. Selalu ada jalan untuk kembali. Bukan dengan memaksa atau menuntut lebih keras, tetapi dengan menghadirkan kembali rasa itu rasa hangat, rasa dekat, rasa hidup dalam membaca. Mungkin dimulai dari hal yang sangat sederhana: duduk di samping anak, membuka satu buku, membacakan satu cerita, meluangkan sepuluh menit tanpa gangguan. Biarkan anak melihat bahwa membaca bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kebersamaan.

Suatu hari nanti, anak-anak kita akan tumbuh dan membawa cerita mereka sendiri. Dan ketika mereka mengingat masa kecilnya, semoga mereka tidak hanya mengingat layar yang menyala, tetapi juga seseorang yang pernah duduk di samping mereka, membacakan dunia lewat sebuah buku. Karena pada akhirnya, mungkin yang anak butuhkan bukan lebih banyak buku, tetapi lebih banyak kehadiran kita di dalam setiap cerita yang mereka jalani.

Lidia Lamhisa , S.Pd.,M.M.
Kepala SD Kristen Tabgha

TABGHA SENIOR CUP 2026

Kolaborasi, Kreativitas, dan Karakter dalam Olahraga dan Seni

Pelaksanaan Tabgha Senior Cup 2026 menjadi momentum bersejarah bagi SMA Tabgha sebagai ajang perdana yang memadukan bidang olahraga dan seni dalam satu panggung besar. Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi merupakan wadah kolaborasi antar sekolah, sarana promosi lembaga, serta media pembentukan karakter peserta didik secara holistik.

Di tengah perkembangan zaman yang menuntut generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, kreatif, dan mampu bekerja sama, kegiatan seperti Tabgha Senior Cup menjadi laboratorium kehidupan yang nyata.

Melalui olahraga, siswa belajar sportivitas, disiplin, dan kerja sama tim. Melalui seni, siswa belajar mengekspresikan kreativitas, kepekaan rasa, serta kepercayaan diri tampil di depan publik. Kegiatan seperti ini terbukti mampu membentuk karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, implementasi potensi maupun skill, serta kemampuan sosial siswa.

Tujuan Pelaksanaan Tabgha Senior Cup

Pelaksanaan Tabgha Senior Cup memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

  • Membangun Kolaborasi Antar Sekolah

    Kegiatan ini mempertemukan siswa dari berbagai sekolah dalam suasana kompetisi yang sehat, memperluas relasi, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam keberagaman.

  • Media Promosi Sekolah

    Tabgha Senior Cup menjadi etalase bagi SMA Tabgha untuk menunjukkan kualitas, budaya sekolah, serta potensi siswa dalam bidang non-akademik.

  • Pembentukan Karakter Siswa

    Melalui pertandingan dan pertunjukan seni, siswa dilatih untuk disiplin, bertanggung jawab, berani tampil, serta belajar menerima kemenangan dan kekalahan dengan sikap yang benar dan penuh rasa syukur.

  • Pengembangan Bakat dan Minat

    Kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk menyalurkan talenta di bidang olahraga maupun seni secara positif dan terarah, serta menjadi kegiatan yang berkesinambungan.

Nilai-Nilai Alkitabiah dalam Tabgha Senior Cup

Pelaksanaan Tabgha Senior Cup sejalan dengan nilai-nilai Firman Tuhan, antara lain:

  • 1 Korintus 9:24

    "Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya."

    Ayat ini mengajarkan semangat berjuang dengan maksimal, bukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

  • Kolose 3:23

    "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan."

    Baik dalam pertandingan olahraga maupun penampilan seni, setiap siswa belajar bahwa usaha terbaik mereka adalah bentuk penyembahan kepada Tuhan.

  • Mazmur 133:1

    "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun."

    Nilai kebersamaan dan kolaborasi antar sekolah mencerminkan kesatuan dalam keberagaman.

Relevansi dengan Zaman Sekarang

Di era digital dan kompetitif saat ini, generasi muda menghadapi tantangan individualisme, tekanan prestasi, dan minimnya interaksi sosial yang sehat. Tabgha Senior Cup hadir sebagai jawaban dengan menghadirkan:

  • Ruang interaksi nyata, bukan hanya dunia virtual

  • Kompetisi yang sehat, bukan toxic comparison

  • Kolaborasi lintas sekolah yang membangun jejaring positif

  • Pembentukan karakter yang seimbang antara hard skill dan soft skill

Kegiatan olahraga terbukti memiliki hubungan kuat dengan pembentukan karakter seperti kerja sama, penetapan tujuan, dan ketangguhan mental. Sementara seni membantu siswa mengembangkan kreativitas, empati, serta kemampuan bekerja dalam harmoni bersama orang lain.

Dampak dan Nilai yang Ditinggalkan

Setelah berakhirnya Tabgha Senior Cup, yang diingat bukan hanya piala dan juara, tetapi nilai-nilai yang tertanam, yaitu:

  • Sportivitas

  • Kerja sama

  • Keberanian tampil

  • Disiplin dan tanggung jawab

  • Persahabatan lintas sekolah

  • Kebanggaan terhadap sekolah

Uniknya, kegiatan ini diprakarsai oleh murid SMA Tabgha sendiri, yaitu OSIS dan para volunter. Ini menjadi pengalaman baru bagi mereka dalam berorganisasi dan mengelola event dengan ruang lingkup yang lebih besar. Namun sekolah tetap menekankan bahwa prioritas utama adalah pembelajaran, sehingga siswa mampu menyeimbangkan antara kegiatan dan tanggung jawab akademik.

Kiranya melalui kegiatan ini SMA Tabgha semakin mengerucut kepada nilai dan warna yang semakin bersinar, menjadi sekolah yang bukan hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam karakter dan iman.

Informasi lengkap mengenai kegiatan dapat dikunjungi melalui Instagram OSIS SMA Kristen Tabgha:

https://www.instagram.com/osissmakristentabgha?igsh=bDJncHl0OXBvamEz

Kiranya Tuhan memberkati program Tabgha Senior Cup.

Tuhan Yesus Berkarya.

Hormat kami,

Vera Susanti, M.Pd

Book Day TK Kristen Tabgha Saatnya Buku Hidup dalam Imajinasi Anak!

Pada bulan Oktober, TK Kristen Tabgha merayakan Book Day — sebuah kegiatan istimewa yang dirancang untuk menumbuhkan minat baca dan cinta literasi sejak usia dini. Tahun ini, suasana sekolah kami dipenuhi warna dan keceriaan ketika para siswa datang dengan kostum karakter dari buku cerita favorit mereka. Ada yang menjadi putri, ksatria, hewan lucu, hingga tokoh pahlawan dari kisah-kisah yang mereka sukai.

Tujuan dan Makna Book Day

Kegiatan Book Day bukan sekadar perayaan kostum, tetapi juga bagian dari pendekatan pembelajaran “play-based learning” yang diterapkan di TK Kristen Tabgha. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak:

  • Untuk mengekspresikan imajinasi dan kreativitas melalui peran tokoh dalam buku.

  • Belajar menyampaikan cerita dan emosi dengan percaya diri di depan teman-teman.

  • Mengenal nilai moral dan pesan positif dari setiap kisah yang mereka baca.

  • Mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir kritis, dan sosial-emosional melalui interaksi ringan dengan teman dan guru.

Kegiatan Seru Selama Book Day

Hari itu, setiap kelas di TK Kristen Tabgha dipenuhi kegiatan menarik seperti:

  • Story Sharing Time — anak-anak menceritakan kembali kisah favoritnya dengan cara sederhana dan lucu.

  • Mini Parade Kostum — kesempatan bagi siswa untuk tampil percaya diri dan bangga mengenakan karakter pilihan mereka.

  • Reading Corner Exploration — area baca penuh warna dengan koleksi buku anak-anak yang menarik, membangun kebiasaan membaca sejak dini.

  • Creative Craft Session — membuat penanda buku, mahkota karakter, atau ilustrasi dari cerita yang mereka sukai.

Semua kegiatan dilakukan dalam suasana hangat, aman, dan penuh dukungan dari para guru yang telah berpengalaman serta bersertifikasi pendidikan anak usia dini.

Manfaat Book Day untuk Anak Usia Dini

Melalui kegiatan seperti ini, TK Kristen Tabgha percaya bahwa:

  • Anak belajar mencintai buku bukan karena kewajiban, melainkan karena kesenangan.

  • Kemampuan berkomunikasi, empati, dan imajinasi berkembang secara alami.

  • Aktivitas membaca menjadi bagian dari keseharian belajar yang menyenangkan, bukan aktivitas yang membosankan.

📖 TK Kristen Tabgha – Growing Stronger With Love!

Mr.Daniel - Early Years Principal